kamini.id

Sunscreen 101: Apakah Arti Nilai SPF dan PA?

Ditulis oleh Sera Serinda A - Diperbaharui 29 Juli 2021

Ketika berjalan menyusuri rak-rak deretan sunscreen di supermarket, kamu pasti sudah sering melihat nilai SPF dan PA yang terpampang besar pada kemasan produk susncreen. Beberapa mungkin sudah mengetahui dengan jelas apa fungsi nilai SPF dan PA tersebut, namun ada juga yang baru mengenali fungsi SPF tapi tidak dengan PA.

Padahal, secara teori, kedua rating produk sun protection tersebut sangatlah penting lho untuk kulit, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Lantas, apa sih kegunaan dan arti nilai SPF dan PA? Nah, sebelum membahas detilnya, sebaiknya kita berkenalan terlebih dahulu dengan sinar UV yang menjadi akar permasalahan kulit sekaligus alasan mengapa produk sunscreen muncul.

Sekilas tentang sinar UV

Matahari yang merupakan sumber energi terbesar di dunia sebenarnya memancarkan berbagai macam radiasi elektromagnetik. Hampir 99% dari radiasi tersebut ada dalam bentuk cahaya tampak atau visible light, sinar ultraviolet (UV), dan sinar iframerah. Tentu saja dari ketiga cahaya tersebut, yang bertanggung jawab atas permasalahan kulit yang diderita umat manusia adalah sinar UV.

Sinar UV sendiri terdiri dari 3 jenis yaitu UVA, UVB dan UVC. Sinar UVA bertanggung jawab atas penggelapan pada kulit (tan) yang terjadi apabila seseorang terlalu lama terekspos sinar matahari. Sinar UVA juga yang dapat menyebabkan permasalahan kulit dalam jangka panjang seperti kerutan. Pasalnya, sinar UVA bertanggung jawab atas pembentukan radikal bebas pada kulit.

Sementara UVB bertanggung jawab atas terjadinya sunburn yang ditandai dengan munculnya kemerahan dan sensasi terbakar pada kulit. Bahkan UVB bisa mengantarkan pada penyakit kanker kulit seperti melanoma, meski memang UVA juga berperan dalam terjadinya masalah ini.

Tekahir, UVC adalah sinar yang memiliki tingkat energi paling tinggi dibandingkan dua jenis sinar UV tadi. Sinar ini bisa dibilang paling membahayakan karena dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai bentuk kehidupan. Untungnya, sinar UVC secara alami dapat terhalang oleh lapisan ozon. Sehingga bila lapisan ozon terjaga dengan baik, sinar UVC tidak akan pernah mengenai bumi.

Dari ketiga jenis sinar UV tersebut, tampak jelas bahwa yang bertanggung jawab atas permasalahan kulit adalah UVA dan UVB. Dan dari sinilah para peneliti mulai mencari cara agar manusia dapat terhindar dari bahaya kedua sinar ultraviolet tersebut.

Sun Protection Factor (SPF)

Sumber: tipsmake.com

Berangkat dari penemuan seorang kimiawan Swiss bernama Franz Gretter yang memperkenalkan produk bernama Glacier Cream bernilai SPF 2 pada tahun 1940an, mulailah SPF yang merupakan singkatan dari Sun Protecting Factor digunakan untuk menyatakan kemampuan suatu produk sun protection dalam melindungi kulit. Nilai SPF ini digunakan Gretter setelah ia beberapa kali mendapati kulitnya terbakar ketika mendaki gunung.

Dari pengalaman Gretter tersebut, tampak jelas bahwa SPF merupakan nilai yang menyatakan perlindungan terhadap sinar UVB, dan seiring berjalannya waktu para peneliti akhirnya dapat memformulasikan produk dengan nilai SPF yang lebih tinggi. Karena itulah muncul SPF 15, SPF 30, SPF 50 bahkan SPF 100.

Arti Nilai SPF

Nilai SPF sendiri sebenarnya menyatakan seberapa lama kulit dapat bertahan sebelum pada akhirnya terbakar oleh sinar UVB. Secara teoritis, SPF 15 memiliki arti bahwa produk tersebut dapat melindungi kulit 15 kali lebih lama sebelum akhirnya terbakar, sementara SPF 30 berarti perlindungan 30 kali lebih lama, dan seterusnya.

Sebagai contoh, apabila kulitmu mulai terbakar setelah 10 menit terkespos matahari dalam kondisi bare, SPF 15 akan membuat kulitmu terlindungi setidaknya selama 150 menit, sementara SPF 30 akan melindungi kulit hingga 300 menit atau sekitar 5 jam. Terdengar menjanjikan, bukan?

Sayangnya, nilai tersebut hanyalah nilai teoritis saja, alias cukup sulit diterapkan pada kondisi sungguhan. Karena kemampuan produk sunscreen dari waktu ke waktu akan mengalami penurunan efektifitas, entah karena luntur ataupun teroksidasi.

Bukan itu saja, seperti dikutip dari chanel youtube Michelle Wong yang merupakan seorang Ph.D Kimia dan juga pengamat dunia kecantikan, sinar UVB yang dipancarkan oleh matahari memiliki level yang berbeda tiap jam-nya. Sinar UVB yang terpancar pada siang hari akan memiliki level yang berkali lipat lebih tinggi dibandingkan pada pagi hari. Belum lagi saat berenang, dimana air dapat membuat paparan menjadi dua kali lipat lebih kuat.

Kondisi-kondisi tersebut menjadikan niali SPF tidak bisa dijadikan patokan yang tepat. Maka dari itulah banyak expert yang menyarankan untuk selalu mengaplikasikan sunscreen dengan tepat dan melakukan re-apply setidaknya dua jam sekali, saat berkeringat, dan saat terkena air, agar proteksi sunscreen terhadap sinar UV selalu optimal.

Apakah Semakin Tinggi Nilai SPF Semakin Baik?


Baca juga:

Bila mengamati arti dari nilai SPF, seolah-olah tampak bahwa semakin tinggi nilai SPF suatu produk maka proteksi yang diberikan terhadap kulit pun akan semakin maksimal. Dan memang jawabannya adalah benar, terutama bila mengacu pada penelitian tahun 2018 yang membandingkan efektifitas sunscreen SPF 50+ dan SPF 100+ pada dua kelompok relawan.

Hasil penelitian ini mengungkap bahwa sunscreen ber-SPF 50+ menyebabkan lebih banyak relawan terkena sunburn dibandingkan sunscreen ber-SPF 100+. Dengan kata lain, SPF 100+ terbukti dapat melindungi lebih baik dari SPF 50+.

Meski begitu, tetap saja ada sedikit kebimbangan yang perlu dipertimbangkan bila memutuskan untuk menggunakan SPF yang tinggi untuk digunakan terutama sebagai sunscreen harian.

Pertama, nilai SPF yang semakin tinggi menyatakan bahwa produk tersebut memiliki kandungan bahan aktif lebih banyak. Padahal harga bahan-bahan aktif ini tidak masuk dalam kategori affordable. Artinya, bila kamu memutuskan ingin menggunakan sunscreen dengan SPF sangat tinggi, kamu harus rela merogoh kocek sangat tinggi untuk mendapatkannya.

Kebimbangan lainnya adalah bahwa tidak peduli berapa nilai SPF suatu produk, kemampuan proteksinya akan selalu berkurang efektifitasnya dari waktu ke waktu. Dan, ya, kamu juga tetap harus mengaplikasikan kembali sunscreen setidaknya 2 jam sekali bila ingin perlindungan yang optimal terlepas dari nilai SPF yang digunakan.

Karena kebimbangan inilah banyak yang akhirnya menyarankan untuk menggunakan produk sunscreen dengan nilai SPF 30 saja dibanding yang ber-nilai SPF lebih tinggi. Karena dari segi efektifitas, keduanya tidak menunjukan perbedaan yang signifikan.

Sekilas tentang PA

Bila SPF menjadi patokan seberapa hebat proteksi produk sun protection melindungi kulit dari sinar UVB, maka PA dibuat untuk mengukur level proteksi terhadap sinar ultraviolet-A (UVA). PA sendiri merupakan singkatan dari Protection Grade of UVA. Sistem rating ini berasal dari Jepang dan berkembang baik di banyak negara Asia.

Sistem PA sebenarnya terbilang baru dan masih dalam tahap perkembangan hingga saat ini mengingat dahulu kala manusia cenderung lebih concern terhadap reaksi sunburn yang terjadi pada kulit ketika terkespos matahari.

Akan tetapi, setelah mengetahui fakta bahwa sinar UVA dapat menyerap ke lapisan kulit yang lebih dalam dibandingan UVB sekaligus bertanggung jawab atas timbulnya abnormalitas pada kulit dalam jangka panjang, para peneliti mulai mengembangkan formulasi sun protection yang juga dapat melindungi dari bahaya sinar UVA ini salah satunya adalah dengan menggunakan PA.

Rating PA yang sudah umumnya digunakan pada produk sun protection sendiriyaitu PA+, PA++, PA+++ dan PA++++. Kira-kira, apa ya maksud dari simbol (+) tersebut? Eits, sebelum itu, mari berkenalan dahulu dengan metode yang digunakan untuk penentuan rating PA ini, yaitu Presistent Pigmen Darkening (PPD)

Presistent Pigment Darkening (PPD)

Seperti dilansir dari the klog, metode ini dilakukan untuk menguji seberapa hebat sebuat produk sun protection dalam menghadang sinar UVA. Hasil dari metode ini adalah nilai PPD yang menunjukan seberapa lama seseorang dapat bertahan di bawah sinar UVA sebelum akhirnya mengalami penggelapan kulit (tan).

Nilai PPD 10 memiliki arti bahwa kulitmu dapat bertahan 10 kali lebih lama sebelum akhirnya menjadi cokelat kala menggunakan produk sun protection, dibandingkan saat tidak menggunakan apapun.

Jadi, kalau biasanya kulitmu bisa bertahan hanya selama 5 menit sebelum menjadi coklat, bila menggunakan produk dengan nilai PPD 10, secara teori kulitmu dapat bertahan lebih lama menjadi 50 menit. Benar, metode ini sama seperti pengujian SPF, hanya saja menggunakan UVA bukan UVB.

Meski menunjukkan harapan terhadap proteksi dari sinar UVA, akan tetapi nilai PPD ini tidak dapat diukur dengan tepat. Pertama, karena belum adanya sistem yang terstandarisasi untuk mengevaluasi skor PPD. Selain itu, in real life tidak semua orang dapat menunjukan reaksi perubahan warna kulit menjadi coklat kala terpapar sinar matahari terutama oleh UVA.

Warna kulit orang yang telah terpapar sinar UVA juga tidak konsisten; beberapa orang ada yang kulitnya menjadi lebih gelap, beberapa tidak terlalu gelap, bahkan beberapa orang membutuhkan waktu yang sangat lama agar kulitnya berubah menjadi coklat. Hal-hal tersebutlah yang menjadi penyebab tidak semua negara di dunia menyetujui metode PPD.

Meski PPD tidak menunjukkan jumlah pasti perlindungan UVA yang diberikan produk, akan tetapi hasil tes ini dapat digunakan oleh tiap negara untuk diubah dengan sistem rating masing-masing. Dan di negara Jepang, hasil tes ini dikonversikan ke dalam sistem penilaian yang dinamakan PA.

Arti Nilai PA

PPD memang tidak menujukan jumlah pasti perlindungan terhadap UVA dari suatu produk, akan tetapi hasil dari tes PPD dapat dikonversikan menjadi nilai khusus dengan sistem penialan yang diserahkan pada masing-masing negara. Merujuk pada colorscience, negara bunga sakura, Jepang,  mengonversikan hasil PPD ke dalam sistem penilan PA seperti berikut ini.

  • PA+ berarti produk memiliki PPD 2 hingga 4 (memberikan perlindungan terhadap sinar UVA)
  • PA++ berarti produk memiliki PPD 4 hingga 8 (memberikan perlindungan sedang terhadap sinar UVA)
  • PA+++ berarti produk memiliki  PPD 8 hingga 16 (memberi perlindungan lebih baik dari PA++)
  • PA++++ berarti produk memiliki PPD 16 atau lebih (memberikan perlindungan paling baik terhadap sinar UVA)

Mudahnya, bila kamu ingin mengetahui seberapa kuat perlindungan yang ditawarkan sebuah produk terhadap sinar UVA, carilah produk dengan tanda (+) lebih banyak pada rating PA-nya.

PA Vs Broad Spectrum

Sumber: freepik.com

Sebelumnya sudah disinggung, bahwa tidak semua negara meneyutujui metode PPD dalam penentuan level proteksi terhadap sinar UVA. Alhasil, hal ini mengakibatkan tidak semua negara menyetuji penggunaan PA sebagai nilai kekuatan sunscreen dalam melindungi kulit dari sinar UVA.

Sebab banyak yang beranggapan bahwa rating PA ini tidak memiliki keterkaitan waktu dengan nilai SPF. Misalnya, bayangkan bila kamu memiliki produk SPF 15 dengan PA+++. Setelah menggunakan sunscreen tersebut selama 75 menit, kemudian kamu mendapati kulit mulai mengalami sunburn, namun kamu tidak menyadari adanya perubahan warna apapun pada wajahmu di hari pertama.

Akan tetapi pada hari-hari berikutnya, kamu mulai merasakan kulitmu yang berubah menjadi lebih gelap. Ini berarti nilai PA tidak memiliki hubungan waktu yang sama dengan nilai SPF pada produk sunscreen tersebut. Membingungkan, bukan? Karena itulah tidak ada yang tahu berapa lama nilai PA dapat bertahan pada kulit seseorang sebelum akhirnya orang tersebut mengalami penggelapan kulit.

Fakta ini juga yang menjadikan negara-negara seperti Amerika dan Eropa tidak menggunakan rating PA sebagai patokan perlindungan terhadap sinar UVA, melainkan menggunakan istilah Broad Spectrum untuk merujuk pada produk yang memiliki sistem proteksi UVA sama kuatnya dengan proteksi terhadap UVB.

Penggunaan Broad Spectrum ini memang lebih masuk akal dan akurat karena dianggap lebih mewakilkan repons yang dialami kulit manusia di dunia nyata saat terkespos matahari, bukan hanya karea UVA atau UVB saja. Intinya, saat mengukur proteksi produk sun protection memang lebih baik mengukur perlindungan terhadap UVA dan UVB secara bersamaan, bukannya terpisah-pisah.

Di Indonesia sendiri kebanyakan produk sunscreen memang menggunakan rating PA dibandingkan Broad Spectrum. Akan tetapi bukan berarti kamu harus meninggalkan produk-produk tersebut dan beralih pada produk yang diproduksi negara Eropa atau Amerika.

Karena, kembali lagi pada cara menggunakan sunscreen yang efektif, bahwa klaim apapun akan runtuh bilamana kamu tidak menggunakan sunscreen dengan tepat dan tidak mengaplikasikannya kembali selama 2 jam sekali, saat berkeringat, serta saat luntur oleh air.

Bottom Line

Sunscreen yang baik adalah sunscreen yang dapat menawarkan proteksi baik dari sinar UVA maupun UVB, terlepas dari nilai SPF atau rating PA yang dipilih. Meski memang semakin tinggi nilai SPF maupun rating PA mengindikasikan proteksi yang semakin baik, namun bukan berarti proteksi tersebut menjadi lebih efektif.

Pasalnya, dari waktu ke waktu sunscreen atau produk sun protection lain akan mengalami penurunan efektifitas, oleh karenanya pengaplikasian sunscreen yang tepat sangatlah diperlukan untuk memaksimalkan proteksi tersebut. Bukan itu saja, kamu juga haru mengaplikasikan sunscreen kembali setidaknya 2 jam sekali, saat berkeringat, ataupun saat luntur oleh air.

Tag: 
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram