Kamini.id / Suami / Jangan Terpancing, Ini 10 Cara Menghadapi Suami Pemarah

Jangan Terpancing, Ini 10 Cara Menghadapi Suami Pemarah

Ditulis oleh - Diperbaharui 7 Maret 2019

Menghadapi orang pemarah terkadang membuat kita bingung sendiri. Apakah harus dilawan atau dibiarkan? Caranya bagaimana? Kalau saja yang pemarah itu orang lain, mungkin nggak akan terlalu mengganggu karena nggak perlu sering bertemu. Namun, apa jadinya kalau yang pemarah adalah suami sendiri?

Tinggal di atap yang sama, orang terdekat sekaligus orang yang paling sering ditemui. Kalau suami pemarah, tentu istri menjadi orang yang paling dirugikan. Kalau kamu sedang mengalami hal ini, marilah saling berbagi.

Nggak ada yang akan berubah kalau kamu melakukan hal yang sama. Jadi, kamu perlu mengusahakan sesuatu supaya ada perubahan yang kamu rasakan. Suami pemarah bukan sesuatu yang baik, jadi nggak boleh dibiarkan.

Kebanyakan istri memilih diam karena mungkin terlalu bingung harus melakukan apa. Jadi, yang bisa mereka lakukan cuma berdoa dan berharap ada keajaiban yang membuat suaminya sadar lalu berubah.

Beruntunglah sekarang ini informasi mudah didapatkan, jadi kamu bisa menemukan banyak pengetahuan untuk mencari cara menghadapi suami pemarah. Salah satunya artikel dari Kamini ini. Tentu, masih banyak bahan lain yang bisa kamu pelajari. Namun, kamu bisa memulainya dari sini.

10 Cara Menghadapi Suami Pemarah

1. Jangan Membalas

Berani Melawan

Jangan melawan api dengan api, karena itu cuma akan membakar semua yang ada di sekitarnya. Sebelum kamu menghadapi kemarahannya, kamu harus menghadapi dirimu terlebih dulu. Bagaimana caranya supaya dirimu nggak ikut terpancing.

Dalam hal ini, kamu sedang menjadi sosok yang lebih kuat dari dia yang sedang dikendalikan amarahnya. Maka, kamu yang masih bisa mengendalikan diri sebaiknya jangan membalas. Jangan menjadi sama seperti dia.

2. Beri Perhatian Lebih

Beri Perhatian Lebih

* sumber: unsplash.com

Sekeras-kerasnya suami, tetap ada ruang rapuh di dalam dirinya. Dia manusia biasa yang bisa tersentuh. Coba beri perhatian lebih dari biasanya. Ini akan membuat hatinya penuh sekaligus hangat. Barangkali amarahnya kerap muncul karena ruang hatinya terlalu kosong.

Ketulusan adalah senjata paling ampuh untuk menghadapi kemarahan. Dengan memberi perhatian lebih berarti kamu telah menjaga ruang hatinya dari kekosongan yang sebelumnya diisi oleh amarah. Karena sekeras-kerasnya seorang suami, pada akhirnya akan melunak di hadapan istri yang tulus mengasihi.

3. Mengungkapkan Perasaan

Mengungkapkan Perasaan

* sumber: unsplash.com

Mungkin selama ini ada banyak hal yang kamu pendam karena takut. Kamu memilih untuk memendam semuanya sampai hatimu penuh dan akhirnya kamu bingung sendiri. Perasaan itu mulai mengganggu dan membuat kamu jadi nggak nyaman. Mudah takut atau mudah cemas.

Mengungkapkan perasaan adalah jawabannya. Cari waktu yang tepat ketika suamimu sedang dalam keadaan yang baik. Ungkapkan kalau sesekali kemarahannya bisa jadi begitu menyakitkan untuk kamu. Dengan begitu dia menjadi tahu apa yang kamu rasakan ketika dia marah.

4. Meluangkan Waktu untuk Berdua

Meluangkan Waktu untuk Berdua

* sumber: unsplash.com

Mungkin hubungan kalian nggak sehangat dulu. Seiring berjalannya waktu, ada jarak yang mulai terbangun diantara kalian berdua. Entah itu karena dia sibuk bekerja, atau mungkin keduanya sama-sama merasa jenuh sampai cuma mengikuti arus saja.

Penting adanya meluangkan waktu untuk berdua, seperti masa-masa awal keduanya saling jatuh cinta. Kehangatan seperti itu harus dirawat dan dijaga nggak bisa dipasrahkan begitu saja. Cara termudahnya, carilah waktu untuk menghabiskan waktu berdua saja. Bercanda atau mungkin bertukar isi hati.

5. Berani Karena Benar

Berani Karena Benar

* sumber: fabelio.com

Suami tetaplah manusia biasa yang pasti bisa berbuat salah. Kalau dia sedang berbuat salah dan kamu yakin kalau kamu benar, beranilah untuk mengingatkan. Berani berarti kamu nggak membiarkan kebenaran dikalahkan oleh kemarahan.

Berani bukan berarti kamu harus sama kerasnya seperti dia. Tetaplah berusaha mengendalikan dirimu supaya tetap tenang sehingga semua yang kamu katakan dan lakukan tetap terukur. Biasanya kalau orang terbawa emosi, kata-kata dan tindakannya jadi berantakan. Berusahalah sekeras-kerasnya supaya kamu nggak terbawa emosi.

6. Mengetahui Batas

Mengetahui Batas

* sumber: www.istockphoto.com

Seperti sabar, amarah juga ada batasnya. Kamu harus mengetahui batas itu. Untuk kesabaran kamu dan kemarahan dia. Sampai kapan kamu harus bertahan dengan bersabar, dan sampai kapan kamu harus menghadapi kemarahannya.

Kamu perlu mengetahui batas supaya tahu kapan harus menghadapi, kapan harus pergi meninggalkannya sendiri. Kapan harus menghadapinya sendirian, kapan harus meminta pertolongan. Kenali dirimu lebih dulu supaya kamu bisa tahu batasmu. Ketika kamu mulai nggak sanggup menghadapinya sendirian, kamu boleh meminta pertolongan.

7. Mengendalikan Diri

Mengendalikan Diri

* sumber: unsplash.com

Kalau kamu nggak bisa mengendalikan diri, akan sulit untuk menghadapi dia yang sedang marah. Kamu akan membiarkan dirimu terbawa emosi atau kamu malah membiarkan dirimu menjadi lemah dan pasrah. Butuh waktu dan pasti nggak mudah, tetapi bisa diusahakan.

Ibarat perjalanan, mengendalikan diri berarti membawa dirimu tetap di jalan yang benar sampai ke tempat tujuan. Nggak belok sana atau belok sini, atau malah berhenti di tengah jalan. Kuncinya, percayalah pada dirimu sendiri kalau kamu mampu menghadapinya.

8. Mempertahankan Pendapat

Mempertahankan Pendapat

* sumber: marriagegems.com

Namanya berumah tangga, pasti ada perbedaan pendapat. Kadang, kamu terpaksa melemahkan pendapatmu karena dia marah. Akhirnya, kamu membiarkan pendapatnya menjadi benar padahal kamu tahu kalau yang benar adalah pendapatmu. Jadi, jangan cuma berani berpendapat tetapi kamu juga harus bersiap untuk mempertahankan itu.

Mungkin karena marahnya dia lebih kencang dari pendapatnya dan kamu terlalu takut untuk menghadapinya. Maka ketika kamu sudah yakin bahwa kamu membicarakan kebenaran, pertahankan. Pertahankan sehalus-halusnya, jangan sampai menjelek-jelekkan pendapat dia. Pelan-pelan, kemarahan akan dipudarkan oleh kebenaran.

9. Beri Waktu

Beri Waktu

* sumber: www.businessinsider.sg

Waktu dia marah, ada baiknya kamu memberi waktu untuk dia terlebih dulu. Jangan menjadi reaktif dengan langsung merespon kemarahannya. Waktu yang kamu berikan itu bisa kamu gunakan untuk menelaah dan memahami. Jangan dulu membantah atau membalas, tetapi cari tahu dulu apa penyebabnya.

Setelah cukup tenang, kamu bisa mulai membedah permasalahannya. Perhatikan tutur katamu jangan sampai menggunakan kata-kata yang kasar sehingga memancing kembali amarah yang mulai mereda. Ini waktunya kamu menjadi air untuk api yang sedang menyala di dalam dirinya.

10. Memposisikan Diri

Memposisikan Diri

* sumber: www.videoblocks.com

Waktu suami marah, selalu ingat untuk memposisikan dirimu sebagai istri. Bukan sebagai tersangka yang bisa dia maki-maki, atau sebagai musuh yang melawan dia habis-habiskan. Posisikan dirimu sebagai seorang istri dan kalian punya tujuan yang sama, yakni mencari solusi.

Kamu boleh duduk di sampingnya, mengusap punggungnya, atau mungkin memeluknya. Mendengarkan kekesalannya sambil menenangkan dengan perkataan atau tindakan. Karena marah mungkin selalu bisa mengalahkan yang lemah tetapi marah nggak akan bisa mengalahkan yang ramah.

Memposisikan diri juga berarti kamu sedang menegaskan kalau kamu seorang istri yang bisa diajak untuk berdiskusi, bukan dijadikan pelampiasan atau disalahkan. Karena mencari solusi jauh lebih penting daripada sebatas mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.

Cara menghadapi suami pemarah yang tertulis di atas bukan cara yang paling sempurna, tetapi bisa menjadi pilihan untuk dicoba. Kamu juga bisa membuat hubungan kalian semakin harmonis dengan membaca artikel cara mempertahankan hubungan agar langgeng.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan komentar