Ketahui 6 Ciri Toxic Masculinity dalam Kehidupan Sehari-hari

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 1 Oktober 2021

Dunia sudah penuh dengan tindakan patriarki yang mengakar sejak zaman dulu. Saking kuatnya, hal tersebut dianggap lumrah dan memang begitu semestinya. Sejak kecil misalnya, anak lelaki selalu menerima nasihat untuk menjadi anak yang kuat, tidak boleh menangis dan harus tangguh.

Anak lelaki juga dilarang bermain atau menyentuh mainan seperti boneka serta dilarang melakukan pekerjaan rumah, sesederhana menyapu atau cuci piring bekas makan sendiri. Tidak asing dengan hal semacam itu? Aturan-aturan demikian dianggap biasa saja, padahal sama dengan melanggengkan patriarki yang nantinya bisa berujung pada toxic masculinity.

Istilah toxic masculinity belakangan juga semakin ramai dibicarakan. Ia menjadi salah satu isu yang kerap disinggung ketika bicara mengenai patriarki. Lalu seperti apa ciri-ciri toxic masculinity dalam kehidupan sehari-hari dan apa definisi sebenarnya?

Definisi Toxic Masculinity

Definisi dan Asal Istilah Toxic Masculinity_

Seorang psikolog bernama Shepherd Bills menggunakan istilah toxic masculinity untuk pertama kali di tahun 1980-an dan 1990-an. Maskulinitas beracun tersebut muncul dari sistem patriarki. Ia digunakan Bills untuk memisahkan serta membedakan sifat atau nilai-nilai negatif dan positif yang dimiliki laki-laki. 

Bills melakukan sebuah penelitian yang hasilnya menyebutkan bahwa maskulinitas rupanya punya dampak negatif yang dapat merusak hidup lelaki. Pasalnya pada titik tertentu maskulinitas seolah mengharuskan lelaki untuk berlaku lebih dominan serta agresif agar dihormati.

Dikutip dari berbagai sumber, sebuah studi yang termuat dalam Journal of School of Psychology menjelaskan definisi toxic masculinity sebagai ajang pamer dari sifat-sifat maskulin yang regresif, yang secara sosial punya fungsi mendorong terjadinya dominasi, kekerasan yang sewenang-wenang, homophobia dan devaluasi terhadap perempuan.

Ciri Toxic Masculinity yang Biasa Ditemui Sehari-hari

Menurut penuturan Bills, sebuah fakta mengungkapkan bahwa banyak lelaki merasa tempat untuk kejantanan mereka di dunia modern kurang bertujuan. Sehingga untuk mendapatkan dominasinya kembali, lahirlah maskulinitas beracun. Lantas, bagaimana ciri-ciri seseorang ‘terjebak’ dalam toxic masculinity? Untuk memudahkan Anda mengenali dan menghindarinya, berikut ciri yang umum ditemui sehari-hari.

1. Menangis dan Mengeluh Dianggap Lemah

ciri toxic masculinity_Menangis dan Mengeluh Dianggap Lemah_Sumber: flickr.com

Masyarakat patriarki punya kriteria tersendiri mengenai kejantanan. Anda juga pasti tidak asing dengan kriteria ini, salah satunya yaitu jantan berarti tidak boleh menangis atau mengeluh dan harus selalu kuat. Maka, lelaki yang menangis dan mengeluh lelah terhadap sesuatu akan dianggap lemah. Baca juga fakta tentang menangis selengkapnya.

Kita kerap mendengar ejekan bernada merendahkan pada seorang lelaki yang menangis. Dia dicap cengeng dan tidak jantan oleh lingkungan, terutama oleh sesama lelaki itu sendiri. Kondisi ini adalah bentuk toxic masculinity yang cukup sering kita temukan sehari-hari, yang berpotensi meracuni dan merusak hidup lelaki.

2. Pantang Melakukan Aktivitas yang Dianggap Punya Perempuan

ciri toxic masculinity_Merasa Pantang Melakukan Aktivitas yang Dianggap Punya Perempuan_

Ciri toxic masculinity dalam kehidupan sehari-hari yang selanjutnya yaitu merasa pantang melakukan aktivitas yang dianggap milik perempuan. Anda pasti sering atau pernah bertemu dan mengenal lelaki yang sama sekali enggan melakukan pekerjaan rumah seperti memasak, menyapu atau cuci piring bekas makan sendiri. Padahal, inilah alasan lelaki harus bisa memasak.

Dia menganggap melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut sama dengan merendahkan harga diri dan martabatnya sebagai seorang lelaki. Anggapan tersebut menjadi racun yang berdampak pada kehidupan sosial atau hubungannya dengan orang lain. Padahal, pekerjaan itu tak ada hubungannya dengan kejantanan. Melakukannya justru menunjukkan bahwa seorang lelaki dapat bertanggung jawab terhadap diri dan orang di sekitarnya.

3. Membenarkan Hal Negatif Sebagai Bentuk Kejantanan

ciri toxic masculinity_Membenarkan Hal Negatif Sebagai Bentuk Kejantanan_Sumber: latimes.com

Ciri lain dari maskulinitas beracun yang mudah dikenali yaitu membenarkan hal negatif sebagai bentuk kejantanan. Misalnya ngebut di jalanan yang dapat membahayakan orang lain. Hal negatif semacam itu mereka anggap keren karena berarti dapat mengontrol kecemasan orang lain.

Hal lain yang meresahkan tapi dianggap jantan yaitu minum minuman keras hingga hilang kesadaran. Lelaki atau seseorang yang berhasil minum hingga mabuk merasakan kesenangan sekaligus lebih percaya diri. Ini disebabkan oleh hormon dopamine yang dilepaskan oleh otak. Itulah sebabnya orang-orang mabuk kerap bertingkah sesukanya tanpa takut apa pun sehingga dianggap keren.

4. Merasa Paling Kuat

ciri toxic masculinity_Merasa Paling Kuat_

Ciri toxic masculinity dalam kehidupan sehari-hari yang selanjutnya yaitu merasa paling kuat hingga bisa mengontrol dan mendominasi orang lain. Lelaki yang sudah keracunan maskulinitas akan merasa sebagai makhluk nomor satu, sehingga merasa pula berhak mengontrol orang lain. Baginya tak ada yang paling tahu dan paling kuat selain dirinya.

Toxic masculinity dengan ciri seperti ini akan membuat seorang lelaki tak mau mendengar pendapat siapa pun, apalagi dari orang yang dia nilai lebih lemah, lebih tak berdaya. Baginya dikontrol atau didominasi oleh orang lain bisa terasa sebagai bentuk penghinaan atas kejantanan yang dimiliki.

5. Menekan Emosi

ciri toxic masculinity_Menekan Emosi_Sumber: unsplash.com

Selain melarang dan menganggap lemah lelaki yang menangis, toxic masculinity juga membuat seorang lelaki berusaha sekuat tenaga menahan emosinya. Menurut mereka, lelaki tak seharusnya ekspresif, melainkan harus tetap cool tanpa memperlihatkan emosi terutama kesedihan dan yang bersifat mengurangi kesan kejantanan.

Emosi yang boleh diperlihatkan hanya marah. Dengan menunjukkan kemarahan, lelaki dianggap jantan, kuat atau berkuasa. Jika Anda mengenal seorang lelaki yang selalu tampak baik-baik saja, sekalipun dalam keadaan paling sedih, kemungkinan dia sedang menekan emosinya, kemungkinan dia terjebak dalam toxic masculinity. 

6. Merisak Lelaki yang Dianggap Feminin

ciri toxic masculinity_Merisak Lelaki yang Dianggap Feminin_

Ciri toxic masculinity dalam kehidupan sehari-hari yang selanjutnya yaitu kerap melakukan perisakan atau menganggap lelaki dengan sikap dan sifat feminin atau kemayu sebagai hal yang tidak pantas. Padahal kepribadian setiap orang tidak harus seragam. Ada lelaki yang kemayu, ada juga perempuan yang tomboy, lalu apa bedanya?

Kecenderungan gaya yang dimiliki seseorang; gaya berbusana, bicara dan gesture bukan takaran yang tepat untuk menilai kelayakan seseorang. Sayangnya, sebagian masyarakat kita, termasuk para lelakinya, menganggap bahwa lelaki dengan pembawaan demikian tidak jantan bahkan dianggap tidak normal dalam konteks orientasi seksual. 

Bahaya Toxic Masculinity 

Tuntunan untuk memenuhi kriteria jantan yang ‘ditetapkan’ oleh lingkungan membuat maskulinitas jadi beracun. Sayangnya guna memenuhi hal tersebut, muncul beberapa tindakan atau sikap seperti beberapa point di atas, yang dapat membawa beberapa dampak buruk. Seorang lelaki cenderung akan memenuhi kriteria tersebut dengan melakukan hal-hal yang berpotensi membahayakan dirinya atau orang lain.

Selain itu, toxic masculinity juga dapat memberi beban pada lelaki yang tak memenuhi kriteria standar kejantanan. Racun tersebut dapat membatasi serta mengekang seorang lelaki, seperti menahan tangisan atau kesedihan yang berdampak buruk bagi kesehatan mental karena rentan dengan depresi. 

Ciri toxic masculinity dalam kehidupan sehari-hari terdengar sangat akrab karena budaya patriarki yang begitu kental di masyarakat. Untuk memutus ini, sebagai bagian dari masyarakat Anda bisa turut berperan. Mulai dari lingkungan terkecil lebih dulu, yaitu keluarga. 

Jika Anda memiliki anak lelaki, ajarkan dia untuk mengakui emosinya, mengakui kelemahannya. Kenalkan dia pada perasaannya, termasuk mengenalkan bahwa menangis adalah kebutuhan manusia bukan hanya kebutuhan perempuan.

Jangan lupa juga untuk mengajarkannya bersikap menghormati siapa pun tanpa merendahkan dan merasa hebat. Siap berperan melawan toxic masculinity yang ada di lingkungan kita?

ARTIKEL
PRODUK
BRAND
© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram