Berbagai Mitos Seputar Perawatan Kulit yang Sering Ditemui

Ditulis oleh Sera Serinda A - Diperbaharui 11 Januari 2021

Memiliki kulit yang mulus, sehat, dan cerah adalah impian kebanyakan orang. Keinginan inilah yang menjadi pemicu orang-orang untuk berlomba-lomba mencari produk perawatan kulit yang dapat mengantarkan pada hasil tersebut.

Tak hanya sekedar mencari produk perawatan kulit, demi mendapatkan kulit yang diidamkan tersebut, orang-orang juga tak henti-hentinya mencari informasi seputar perawatan kulit baik langsung melalui dokter dan ahli kulit, ataupun dengan berselancar ria lewat dunia maya.

Terutama pada era digital saat ini, kemajuan teknologi memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi tanpa perlu merogoh kocek tinggi. Karena hampir semua pertanyaan yang diajukan akan terjawab oleh mesin pencarian online.

Sayangnya, kemudahan mendapatkan informasi ini tidak melulu memberikan dampak positif bagi penggunanya. Dikarenakan internet dapat diakses oleh siapapun, informasi yang tersebar pun bisa ditulis oleh siapa saja. Tanpa mengenal latar belakang, usia, ataupun jenis kelamin.

Padahal dalam merawat kulit, kita tidak boleh sembarangan lho menelan semua informasi tersebut bulat-bulat. Bisa-bisa, informasi yang didapatkan tersebut hanyalah mitos belaka. Nah, apabila kamu ingin mengetahui mitos-mitos seputar perawatan kulit yang sudah banyak tersebar, Kamini sudah merangkumnya untuk kamu.

1. Pori-Pori dapat Membuka dan Menutup

Berbagai Mitos Seputar Perawatan Kulit yang Sering Ditemui 1

* sumber: www.womenshealthmag.com

Mitos ini bisa dibilang merupakan mitos yang paling banyak dipercaya oleh masyarakat. Kebanyakan dari kita mungkin percaya bahwa pori-pori dapat membuka terutama dengan bantuan air ataupun uap panas. Begitupula untuk menutupnya kembali, cukup gunakan air dingin. Padahal nyatanya, cara kerja pori-pori tidak demikian.

Pori-pori hanyalah lubang dan saluran tempat ekskresi minyak serta keringat menuju permukaan kulit. Tidak ada otot khusus apapun yang membuat pori-pori dapat membuka atau menutup.

Hanya saja ketika pori-pori tersumbat, tampilan pori-pori akan tampak semakin besar. Karena memang sumbatan tersebut dapat membuat pembesaran ukuran pori-pori. Namun bila sumbatan ini dihilangkan, maka ukuran pori-pori pun akan kembali seperti semula.

Disinilah peran uap panas atau air hangat muncul. Seperti dikutip dari website Harpers Bazaar, uap panas dan air hangat akan mengendurkan sumbatan kotoran dan minyak di dalam pori-pori, menjadikannya mudah diangkat saat wajah dibersihkan menggunakan produk pembersih.

2. Tidak Perlu Menggunakan Sunscreen ketika Cuaca Mendung

Mitos seputar perawatan kulit_tidak perlu menggunakan sunscreen saat mendung

* sumber: www.publicdomainpictures.net

Ketika matahari tertutup awan, kebanyakan dari kita merasa bahwa kulit akan terbebas dari bahaya paparan sinar matahari yang terik. Memang sih ketika mendung, cuaca akan cenderung lebih sejuk dan adem. Namun, siapa sangka bahaya sinar UV juga tetap mengintai kulit sekalipun ketika sang mentari terhalang lapisan awan.

Menurut Skin Cancer Foundation, pada saat cuaca mendung sinar UV tetap dapat mencapai bumi hingga 80%. Artinya, awan tidak benar-benar bisa memblokir sinar UV tersebut dan tetap dapat membuat kulit terekspos oleh bahaya sinar UV. Sehingga, penggunaan sunscreen saat cuaca mendung tetap harus dilakukan.

3. Kulit Berminyak Tidak Membutuhkan Pelembab

Mitos seputar perawatan kulit_kulit berminyak tidak memerlukan pelembab

* sumber: nurturemybody.com

Mitos lain yang cukup berkembang di masyarakat seputar perawatan kulit adalah tidak diperlukannya pelembab pada pemilik kulit berminyak. Banyak yang beranggapan bahwa kulit berminyak sudah memiliki jumlah minyak alami (sebum) yang dapat berfungsi sebagai pelembab dan tidak perlu lagi menggunakan produk pelembab tambahan.

Sebum memang berkontribusi dalam memperkuat skin barrier dan membuat permukaan kulit terbebas dari kekeringan dan pecah-pecah. Akan tetapi, sebum tidak berperan apapun dalam melembabkan bagian dalam permukaan kulit. Karena peran ini hanya bisa diberikan oleh kandungan air dalam kulit. Fungsi ini disebut juga sebagai hidrasi.

Hidrasi sendiri dibutuhkan untuk kulit terlepas dari kondisi dan jenis kulit. Seseorang dengan kulit berminyak tetap mungkin kekurangan hidrasi pada kulitnya. Biasanya, ketika mengalami kulit yang kekurangan hidrasi (dehidrasi), pemilik kulit berminyak akan merasa kulit mereka berminyak sekaligus kering secara bersamaan.

Sehingga untuk mengatasi ini, pemilik kulit berminyak juga membutuhkan produk yang dapat memberikan hidrasi pada kulit, salah satunya adalah produk pelembab.

Nah, produk pelembab yang dapat dipilih oleh pemilik kulit berminyak adalah produk yang memiliki kandungan bahan yang dapat menghidrasi, memiliki formulasi non-comedogenic dan ringan untuk kulit. Tidak mau repot? Kamini punya rekomendasi pelembab kulit berminyak untukmu.

4. Semakin Mahal Produk Perawatan Kulit, Semakin Bagus Kualitasnya

Mitos seputar perawatan kulit_semakin mahal produk perawatan kulit

* sumber: www.kiss.ie

Apakah yang membuat sebuah produk perawatan kulit dibanderol dengan harga yang tinggi? Apakah karena diklaim memiliki kandungan bahan yang khusus dan langka? Atau karena diproses dengan teknologi yang mutakhir?

Bila ternyata jawabannya hanya karena kemasan ataupun strategi pemasaran produsen, apakah kamu tetap berpikir bahwa produk dengan harga yang tinggi memiliki kualitas yang lebih baik?

Baik produk drugstore maupun high-end bila diproduksi oleh brand ternama dan tersertifikasi sebenarnya tidak memiliki banyak perbedaan dari sisi formulasinya. Dan hanya aspek inilah yang sebenarnya menentukan kualitas suatu produk perawatan kulit.

Seperti dilansir dari refinery29, kebanyakan brand high-end mengambil formulasi dasar produk dari brand yang memiliki kualitas produk sangat baik. Sekalipun bila brand referensi yang dimaksud membanderol produk-produknya dengan harga miring.

Kemudian,  formulasi produk tersebut akan dihias dan dikemas kembali oleh brand high-end sehingga tampak seperti produk dengan kualitas lebih baik. Padahal bila dicermati dari formulasi dasar, tidak tampak perbedaan signifikan apapun.

5. Kandungan Bahan Alami Lebih Baik daripada Sintetis

Mitos seputar perawatan kulit_kandungan bahan alami

* sumber: lifestylechoices.net

Anggapan populer lain yang dipercaya masyarakat adalah bahwa kandungan bahan alami dalam sebuah produk perawatan kulit lebih baik dibandingkan kandungan bahan sintetis. Karena itulah saat ini banyak yang memilih produk dengan klaim ‘formulasi alami’ dibandingkan produk yang tidak menonjolkan klaim tersebut.

Kandungan bahan alami diambil dari bahan-bahan yang terdapat di alam. Sementara bahan sintetis adalah bahan yang dibuat di laboratorium. Meski berbeda dari segi cara pembuatan, namun tidak ada yang menjamin bahwa bahan alami terbebas dari bahan-bahan yang berbahaya bagi kulit. Pasalnya, senyawa yang diambil dari alam langsung memiliki struktur yang lebih kompleks dibandingkan senyawa sintetis.

Contohnya saja, beberapa produsen kecantikan menggunakan ekstrak camu-camu berry dalam menawarkan manfaat vitamin C. Namun, kandungan senyawa dalam ekstrak camu-camu berry tidak hanya vitamin C saja. Ada juga senyawa-senyawa lain yang juga dapat memberikan manfaat, ataupun malah menyebabkan reaksi alergi pada kulit.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kandungan bahan alami tidak lebih baik ataupun lebih buruk dibandingkan bahan sintetis. Keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tentu saja keduanya dapat menunjukan reaksi positif pada seorang individu namun juga dapat bereaksi negatif pada individu yang lain.

6. Kulit Berjerawat Harus Sering Membersihkan Wajah

Mitos seputar perawatan kulit_wajah berjerawat

* sumber: www.shape.com

Pemilik wajah berjerawat mungkin relate dengan mitos satu ini. Pasalnya, pemilik acne-prone skin cenderung memproduksi banyak minyak pada wajah dibandingkan pemilik wajah normal sehingga menyebabkan tampilan wajah tampak greasy.

Masih ada yang menganggap produksi minyak berlebih pada wajah berjerawat ini perlu disingkirkan dengan cara sering membersihkan wajah. Sering mencuci muka pada wajah yang berjerawat juga dianggap dapat mengurangi kotoran yang dapat memperparah kondisi jerawat. Sayangnya, anggapan tersebut tetap keliru.

Terlalu sering mencuci muka hanya akan menarik banyak minyak alami kulit. Padahal minyak ini dapat memperkuat skin barrier yang juga dapat mencegah kontak langsung antara kotoran dan kulit. Bila minyak alami ini terlalu banyak dihilangkan, kulit akan terasa sangat kering, tertarik bahkan mudah iritasi.

Bukan itu saja, secara alami kulit juga akan menyeimbangkan kembali kondisi tersebut dengan memproduksi lebih banyak minyak dari sebelumnya dan membuat tampilan wajah semakin berminyak. Karena itulah, anggapan pemilik wajah berjerawat harus sering mencuci muka adalah keliru. Tapi jangan khawatir, Kamini punya cara tepat untuk menghilangkan jerawat yang bisa dilakukan, lho.

Nah, itulah beberapa mitos seputar perawatan kulit yang banyak beredar di masyarakat. Setelah mengetahui fakta-fakta dibalik mitos tersebut sebaiknya kamu lebih mindful lagi dalam menyaring informasi yang beredar. Jangan ragu pula untuk selalu mengkonfirmasi informasi yang kamu dapatkan pada ahlinya agar tahu apakah informasi tersebut dapat dipercaya atau tidak. Semoga membantu!

ARTIKEL
PRODUK
BRAND
© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram