Kamini.id / Lamaran / Tingjing dan Sangjit, Mengenal Tardisi Lamaran Tionghoa

Tingjing dan Sangjit, Mengenal Tardisi Lamaran Tionghoa

Ditulis oleh - Diperbaharui 20 Februari 2020

Di jaman modern seperti sekarang ini, melamar kekasih untuk dinikahi kadang dilakukan lewat prosesi yang sederhana. Pria akan menyatakan niatnya pada wanita pujaan hatinya, setelah itu berbicara pada orangtua kebelah pihak, kemudian digelarlah acara tukar cincin. Selanjutnya, baik pasangan dan keluarga akan menentukan hari pernikahan mereka bersama-sama.

Tapi, dengan kekayaan budaya yang dimiliki oleh Indonesia, tentu saja masih banyak yang menggelar acara lamaran dengan menggunakan tradisi atau menggelar acara adat. Prosesinya pun bermacam-macam. Nah, sekarang kita akan mengenal tradisi tingjing dan sangjit, yaitu tradisi lamaran dan seserahan yang digunakan oleh warga Tionghoa.

Tingjing

Sebelum mulai, kami akan menginformasikan apakah tingjing dan sangjit itu. Tingjing adalah acara lamaran itu sendiri, sementara sangjit, adalah acara seserahan yang biasanya dilakukan 1 bulan hingga 1 minggu menjelang hari pernikahan. Mari kita tengok seperti apa kedua tradisi ini.

1. Penyambutan & Pembukaan

Penyambutan & Pembukaan

Sama seperti lamaran pada umumnya, sesuai tradisi, tingjing sebenarnya digelar di rumah sang wanita. Tapi, ini tidak absolut karena ada juga yang menggelar acara lamaran di restoran atau hotel, bahkan bisa juga mempercayakan sepenuhnya pada wedding organizer.

Seperti juga prosesi lainnya, keluarga dari pihak wanita akan menyambut pihak keluarga pria. Seusai penyambutan, pihak keluarga pria akan menyampaikan maksud kedatangan mereka yang tidak lain adalah untuk meminang sang wanita.

2. Pengikatan Hubungan

Pengikatan Hubungan

Berbeda dengan tradisi pada umumnya yang melakukan tukar cincin, dalam tradisi tingjing, pengikatan hubungan tidak –atau belum- ditandai dengan penyematan cincin tanda bertunangan, tapi dengan pemakaian kalung. Kalung merupakan pertanda ikatan hubungan antara sang wanita dan sang pria. Sedangkan tukar cincin atau tinghun dapat dilakukan saat prosesi sangjit.

Jadi, sang wanita akan dikenakan kalung oleh ibu sang pria, atau, wanita yang dituakan dalam pihak keluarga pria. Tapi, karena pemakaian kalung ini merupakan simbol dari doa restu, alangkah lebih baiknya jika ibu dari sang pria yang mengenakan kalung terhadap sang wanita sebagai tanda bahwa ibu telah merestuinya sebagai calon anak menantu.

Setelah penyematan kalung ini, barulah pasangan yang akan menikah resmi disebut sebagai calon mempelai wanita dan calon mempelai pria karena telah resmi terikat satu dengan yang lain.

3. Penentuan Tanggal Pernikahan

Penentuan Tanggal Pernikahan

Setelah penyematan kalung, kedua belah pihak keluarga akan melakukan pembicaraan untuk menentukan hari pernikahan kedua calon mempelai. Biasanya, penentuan ini akan ditinjau dari tanggal lahir kedua calon mempelai, maupun orangtua keduanya.

Hal ini dilakukan dengan maksud untuk mencari ‘tanggal baik’ yang pas untuk menggelar hari pernikahan. Namun di masa modern seperti ini, ada juga pasangan yang sudah menentukan tanggal pernikahan mereka apalagi sekarang kita mengenal yang namanya ‘tanggal cantik’. Toh semua hari juga baik, ya kan?

4. Hampers

Hampers

Seserahan atau hantaran juga terdapat dalam tradisi tingjing. Namun nampan atau baki yang dibawa pada saat prosesi ini berbeda dengan yang dibawa pada saat melakukan prosesi sangjit. Dalam prosesi sangjit, seserahan yang dibawa telah ditentukan dan memiliki makna khusus. Nanti akan kita bahas.

Nampan yang dibawa pada saat tingjing, sebenarnya hanya merupakan buah tangan atau oleh-olah yang dibawa oleh sang pria untuk sang wanita. Namun bisa juga beberapa benda lain yang dianggap memiliki makna baik.

Prosesi tingjing akan ditutup dengan doa bersama untuk kelancaran hubungan calon mempelai. Setelah itu, kedua belah pihak keluarga akan melakukan acara makan bersama.

Sangjit

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, prosesi tingjing dan sangjit sebenarnya memiliki perbedaan. Sementara tingjing bisa dikatakan sebagai acara lamaran, sementara sangjit merupakan tradisi seserahan. Mari kita simak seperti apa prosesi sangjit ini.

1. Waktu & Tempat

Waktu & Tempat

* sumber: www.missbananadoodle.com

Ada penunjukan waktu khusus dalam menjalankan prosesi sangjit. Telah dibahas sebelumnya bahwa prosesi ini akan dijalankan sebulan atau seminggu sebelum hari pernikahan digelar. Selain dari segi hari, pelaksanaannya juga biasanya digelar pada siang hari, yaitu antara pukul 10.00 hingga 13.00.

Seiring dengan berkembangan jaman, prosesi ini sudah banyak di modernisasi. Jika merujuk pada tradisi asli, pelaksanaan sangjit harus ditentukan melalui kalender Tiongkok. Sementara siang hari adalah penunjukan waktu yang absolut.

Untuk tempat, sama seperti tradisi lain, sebenarnya sangjit harusnya dilakukan di kediaman calon mempelai wanita. Namun, gelaran ini juga bisa dilakukan di tempat lain seperti restoran, atau dengan menyewa ruangan khusus di hotel.

2. Pakaian

Pakaian

Menurut budaya Tiongkok warna merah melambangkan elemen api yang berarti antusiasme atau semangat, keberuntungan dan sukacita. Sehingga tidak mengherankan warna merah selalu mendominasi perayaan-perayaan besar tradisi Tionghoa, termasuk pernikahan. Oleh karena itu, akan banyak atribut berwarna merah dalam prosesi ini.

Untuk pakaian, kedua calon mempelai biasanya akan menggunakan cheongsam atau pakaian tradisional Tiongkok yang berwarna merah. Namun untuk perayaan yang lebih modern, calon mempelai pria dapat menggunakan kemeja atau suit warna lain dengan aksen merah. Begitu pula calon mempelai wanita yang bisa memilih gaun dengan warna lain beraksen merah. Pilihan aksen warna lain yang dapat digunakan adalah kuning keemasan.

3. Seserahan

Seserahan

* sumber: griyabenn.com

Ini dia elemen yang paling penting dari acara sangjit. Karena intinya memang adalah acara seserahan dari calon mempelai pria untuk calon pasangan hidupnya. Isi dari nampan berisi seserahan ini kurang lebih sama dengan seserahan pernikahan lainnya. Diantaranya, kosmetik dan perlengkapan mandi, perhiasan, hingga uang dan buah-buahan. Kita akan membahas apa saja isi nampan ini nanti.

Selain calon mempelai pria, calon mempelai wanita juga akan memberikan seserahannya. Tapi ada yang unik dari prosesi ini, karena wanita akan mengembalikan sebagian hantaran dari pria (akan kita bahas lebih lanjut.red). Termasuk, satu nampan berisi makanan manis seperti cokelat atau permen, nampan keperluan pria berisi baju, pakaian dalam dan sapu tangan, juga angpao.

4. Prosesi

Prosesi

* sumber: www.cosmo.ph

  • Wakil dari pihak keluarga calon mempelai wanita menunggu di depan rumah/tempat seserahan digelar. Para penyambut merupakan anggota keluarga yang telah menikah.
  • Kedatangan rombongan keluarga calon mempelai pria dipimpin oleh anggota keluarga yang dituakan. Sementara pembawa seserahan adalah anggota keluarga yang belum menikah. Dalam kepercayaan adat tertentu, orangtua pria tidak perlu mengikuti prosesi sangjit.
  • Penyerahan hantaran akan diserahkan satu persatu secara berurutan mulai dari seserahan untuk kedua orangtua wanita, disusul untuk calon mempelai wanita, dan seterusnya.
  • Setelah pihak wanita menerima seserahan, hantaran akan langsung dibawa ke ruangan khusus untuk diambil sebagian.
  • Pihak keluarga calon mempelai wanita akan menyerahkan angpao kepada para pembawa seserahan. Maksudnya adalah sebagai doa agar mereka enteng jodoh.
  • Prosesi akan dilanjutkan dengan perkenalan kedua anggota keluarga pada tamu undangan sekaligus penghormatan pasangan calon mempelai pada orangtua kedua belah pihak.
  • Keluarga kedua calon mempelai akan menggelar ramah tamah atau makan siang bersama. Dimana, pihak keluarga calon mempelai wanita lah yang menyiapkannya.

Dalam prosesi sangjit atau seserahan ini, kedua calon mempelai dapat juga melakukan prosesi tinghun atau tukar cincin.

Sebagai informasi, baik tadisi tingjing maupun sangjit, telah menjalani penyesuaian seiring dengan perkembangan jaman.  Meskipun menjunjung tradisi seperti pemilihan waktunya, ada yang menjalankan prosesi tingjing sekaligus juga menggelar sangjit. Malahan ada diantaranya yang menjalani tradisi tingjin, sangjit maupun tinghun dalam satu waktu sekaligus.

Tradisi memang penting, tapi tentu saja ada juga yang mempertimbangkan segi efisiensi. Kadang juga kita harus berkompromi agar seluruh anggota keluarga dapat mengikuti acara demi acara yang digelar baik lamaran, seserahan, hingga upacara pernikahan.

Itulah dia prosesi lamaran dan seserahan menurut tradisi Tionghoa. Jika ada yang mengetahui lebih jauh lagi tentang prosesi tingjing dan sangjit ini, bisa menambahkannya di kolom komentar. Kunjungi juga artikel makna dari berbagai macam hantaran lamaran ini.

Topik Terkait:
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Baca Juga

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *