All About Toxic Relationship: Perbaiki atau Tinggalkan?

Istilah hubungan yang toksik atau toxic relationship semakin populer akhir-akhir ini. Bukan hanya karena jadi topik yang sering diperbincangkan di jagat media sosial, ranah pembahasan toxic relationship yang enggak cuma dikaitkan dengan hubungan pasangan juga menjadikan istilah ini semakin sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Nah, dalam meramaikan Hari Valentine pada bulan Februari kemarin, Kamini mengadakan perbincangan mendalam mengenai toxic relationship dengan Alexandra Arvia M.Psi yang merupakan seorang Psikolog sekaligus founder dari akun Instagram konseling @drlove.id.

Pada perbincangan yang dilakukan lewat Live Instagram ini, Kamini berhasil merangkum poin-poin penting dan cukup mendalam yang disebutkan wanita cantik yang akrab disapa Kak Via ini seputar hubungan yang toksik.

Apa itu Toxic Relationship?

Apa itu toxic relationship__Sumber: pexels.com

Kebanyakan dari kita biasanya langsung mengaitkan istilah toxic relationship pada hubungan yang terjalin di antara pasangan saja, padahal istilah toxic relationship sebenarnya bisa digunakan untuk hampir semua jenis hubungan, lho.

“Toxic Relationship adalah relasi di antara dua individu yang sifatnya enggak saling mendukung dan malah saling menjatuhkan” ujar kak Via. “Ketika terjadi konflik, keduanya saling memandang satu sama lain sebagai lawan. Jadi mereka cenderung berusaha buat menjatuhkan bukannya saling mendukung” tambahnya.

Kondisi hubungan yang toksik bukan hanya terjadi pada hubungan romantis antara pasangan, tapi juga dalam pertemanan, keluarga hingga hubungan profesional. Jadi istilah toxic relationship memang cukup luas penggunaannya.

Hal-Hal yang Bisa Dirasakan pada Hubungan Asmara Berpotensi Toksik

ciri hubungan berpotensi toksik__Sumber: pexels.com

Hubungan yang toksik ternyata enggak terjadi begitu saja. Sebelumnya, ada pertanda yang bisa dirasakan ketika hubungan yang kamu jalani bersama pasangan sudah enggak sehat lagi. Menurut kak Via, ada 8 hal yang bisa dirasakan yaitu:

  1. Adanya perasaan kurang dihargai, sehingga kamu merasa kurang bernilai bagi pasangan.
  2. Kebutuhan non materi enggak terpenuhi, seperti kurangnya perhatian dari pasangan atau kurangnya kasih sayang.
  3. Merasa lebih banyak memberi tanpa adanya timbal balik yang sama. Misalnya kamu terlalu sering mengalah untuk dia dalam hal apa pun.
  4. Adanya perasaan terkekang dimana kamu sering merasa terlalu diatur dan dilarang oleh pasangan untuk melakukan sesuatu.
  5. Kamu merasa selalu sendirian padahal kamu sudah memilikinya, atau bahkan kamu tetap merasa kesepian saat sedang menghabiskan waktu dengannya.
  6. Sering merasa cemas karena adanya perasaan kurang percaya terhadap pasangan
  7. Merasa dimanipulasi sebab dia sering mempermainkanmu
  8. Adanya perubahan pola tidur dan makan karena timbulnya stres akibat terlalu dalam memikirkan hubunganmu yang terasa enggak sehat lagi

Nah, bila kamu merasakan salah satu dari list di atas, kamu enggak boleh tinggal diam. Cobalah untuk langsung mengkomunikasikan perasaan tersebut pada pasangan. Sebab bila dibiarkan begitu saja, kemungkinan besar hubunganmu akan semakin mengarah pada jalinan asmara yang toksik.

Lantas, Apa Ciri Hubungan Asmara yang Sudah Terlanjur Toksik?

ciri hubungan yang sudah toksik__Sumber: pexels.com

Setelah tahu hal-hal yang menandakan kalau hubunganmu bisa berpotensi toksik, lantas bagaimana kita bisa mengetahui bila hubungan yang dijalani sudah termasuk toksik? Ternyata hubungan yang sudah berada dalam zona toksik memiliki ciri-ciri khusus yang bisa dikenali. Kak Via menuturkan kalau ada 5 ciri yang bisa dikenali ketika hubungan sudah menjadi toksik.

1. Adanya Ketidakjujuran

Enggak ada yang suka dibohongi, begitu pula dalam sebuah hubungan. Komunikasi yang transparan antara pasangan sangat penting dilakukan demi menanamkan kepercayaan pada satu sama lain. Akan tetapi, bila kamu atau pun pasangan mulai sering berbohong, hal ini bisa mengindikasikan bahwa hubungan kalian sudah enggak berada di area yang sehat lagi.

“Ketidakjujuran ini bisa mengantarkan pada munculnya rasa cemburu hingga perilaku posesif terhadap pasangan. Dan bila dibiarkan, kondisi ini bisa bikin hubungan jadi rusak” tambah Kak Via.

2. Adanya Komunikasi yang Enggak sehat

Sebagai pasangan, sudah selayaknya kita berani untuk mengungkapkan isi pikiran satu sama lain. Hal ini dilakukan agar kita bisa mengerti dengan pola pikir pasangan kita, begitu pun sebaliknya.

Sayangnya, pada hubungan yang sudah telanjut toksik, jalan komunikasi ini sudah enggak berjalan baik lagi. Entah salah satu dari kalaian mulai malas berbicara, takut beropini, atau malah mengeluarkan kata-kata kasar. Komunikasi yang enggak sehat ini bisa menyakiti baik salah satu maupun kedua belah pihak dalam hubungan.

3. Munculnya Perilaku Mengontrol Orang Lain

Dalam sebuah hubungan asmara yang baik, kita sepantasnya berbagi peran yang sama penting dengan pasangan. Enggak ada yang mendominasi atau pun merasa kurang berperan.

Akan tetapi bila muncul perilaku ini pada hubunganmu dengan pasangan, bisa jadi kalian sedang berada dalam hubungan yang sudah enggak selayaknya dijalani. Sebab, perilaku mendominasi dan mengontrol hanya akan menciptakan adanya tekanan dalam hubungan.

4. Timbulnya Tindak Kekerasan (Abussive)

“Sebenarnya dari adanya perilaku mengontrol orang lain, sudah menggiring pada adanya kekerasan dalam hubungan. Dan ini adalah indikator yang jelas menandakan kalau hubungan kalian sudah toksik” Ujar Kak Via.

Ciri ini memang paling jelas menandakan hubungan yang toksik. Tapi, fase abusive sebenarnya sudah berada di level yang cukup parah dan harus segera ditindaklanjuti.

5. Lupa untuk mengurus diri sendiri

Hubungan yang sudah toksik juga kerap membuat kita lupa menaruh perhatian pada diri sendiri. Padahal mencintai diri sendiri sama pentingnya dengan mencintai pasangan kita. Akan tetapi, saat hubungan sudah toksik, kita cenderung terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan pasangan dan hubungan. Alhasil, sama sekali enggak ada waktu yang tersisihkan untuk memikirkan dan mengurus diri sendiri.

Tapi jangan khawatir, bila kamu cemas karena merasa salah satu ciri di atas tengah kamu rasakan dalam hubungan, kak Alexandra Arvia juga memberikan tips dalam memperbaiki hubungan yang terlanjur tenggelam dalam kolam yang beracun.

Baca juga: Ciri-Ciri Toxic Relationship, Jangan Sampai Kamu Terjebak!

Cara Memperbaiki Hubungan yang Toksik

cara memperbaiki hubungan yang toksik__Sumber: pexels.com

Bila kamu merasa masih memiliki harapan untuk memperbaiki hubungan toksik yang tengah dijalani bersama pasangan. Maka kemungkinan besar kamu memang bisa mengembalikan keharmonisan hubungan bersama dia.

Sebelum mengambil tindakan, kamu harus menyadari posisimu terlebih dahulu. Apakah kamu berada dalam posisi pelaku yang menyebabkan hubungan menjadi toksik ataukah kamu malah menjadi korban?

Bila kamu seorang korban dari hubungan yang toksik:

  • Jujur pada diri sendiri

Merasa enggak bahagia dalam suatu hubungan yang toksik adalah hal yang wajar dan memang pasti dirasakan oleh semua orang. Enggak ada yang salah dari menerima fakta bahwa kamu sudah enggak merasakan kebahagiaan lagi saat menjalani hubungan bersama dia.

Maka dari itu, sudah seharusnya kamu mengelak kalau perasaan kurang bahagia tersebut hanya sugesti belaka. Sebab dengan menerima perasaan ini, kamu akan lebih siap untuk membuka diri pada pasangan dan mengutarakan kerisauanmu terhadap hubungan kalian.

  • Berani untuk Membuka Diri

Bila kamu berhasil jujur pada diri sendiri, saatnya memberanikan diri untuk terbuka akan masalah yang kamu rasakan dari hubungan yang toksik. Hal ini akan mengantarkanmu pada realisasi alasan yang melatarbelakangi timbulnya perliaku toksik dalam hubungan.

  • Diskusikan dengan Pasangan

Setelah menyadari hal-hal yang menjadi alasan hubunganmu berada di jalur yang toksik, maka mulailah untuk mendiskusikannya dengan pasanganmu. Tapi saat membicarakannya, sebaiknya pikiran dan hatimu berada dalam keadaan yang dingin.

Kak Via bahkan memberikan trik khusus “Gunakan ‘I statement’ saat kamu mengutarakan perasaanmu pada pasangan. Hal ini dimaksudkan agar dia enggak merasa tersudutkan oleh pernyataan yang kamu lontarkan”

Dengan menggunakan cara yang tepat saat mendiskusikan kerisauan ini, maka pasangan pun akan mengerti perasaanmu sepenuhnya. Alhasil, kalian dapat menemukan jalan keluar untuk memperbaiki hubungan yang sudah enggak sehat tersebut.

Bila Kamu Seorang Pelaku Penyebab Hubungan Menjadi Toksik

Sedikit berbeda dengan korban, bila kamu menyadari bahwa kamu yang menjadi titik berat dalam hubungan yang toksik bersama pasangan, cobalah untuk melakukan hal berikut:

  • Akui Kesalahan

Hal pertama dan paling penting untuk kamu lakukan adalah segera menyadari kesalahanmu. Posisikanlah dirimu sebagai korban dalam hubungan yang toksik ini.

Walau mungkin alasanmu menjadikan hubungan ini terasa toksik adalah sebagai bentuk kasih sayangmu terhadap dia, pahami bahwa mungkin cara yang kamu gunakan dalam menyampaikannya kurang tepat.

  • Belajar Bertanggung Jawab

Langkah selanjutnya yang harus kamu lakukan sebagai pelaku untuk memperbaiki hubungan yang toksik adalah belajar bertanggung jawab. Tanyakan padanya cara yang harus kamu lakukan untuk mengobati luka di hatinya, treatment tepat dalam memperlakukannya, dan lain-lain. Carilah solusi terbaik yang enggak merugikan kamu maupun pasangan.

  • Jangan Mengulanginya Lagi

Terakhir, berjanjilah baik pada pasangan juga pada dirimu sendiri, untuk enggak mengulangi perliaku-perilaku yang mengantarkan hubunganmu menjadi toksik.

Sekalipun dia sudah memaafkanmu, bukan berarti enggak ada trauma dia dalam dirinya atas tindakanmu tersebut. Karena itu, berusahalah dengan sebaik mungkin untuk enggak kembali terjebak dengan perilaku yang dapat berdampak negatif pada keharmonisan hubungan kalian.

Itulah hal-hal yang bisa dilakukan untuk memperbaiki hubungan menurut Kak Alexandra Arvia. Selama kamu bisa melakukan tips di atas dengan baik, maka kesempatanmu memperbaiki hubungan agar harmonis kembali dengan si dia pun semakin besar.

Akan tetapi, bila tips-tips di atas enggak membuahkan hasil, maka sebaiknya kamu segera memutuskan untuk keluar dari hubungan tersebut. Ingatlah bahwa kebahagiaanmu yang harus diutamakan dibandingkan memenuhi ekspektasi pasanganmu. Sebesar apa pun rasa sayangmu terhadapnya, tetap enggak sebanding dengan rasa sayang yang harus kamu berikan untuk diri sendiri.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram